HBG, Ruang Bertumbuh Guru: Menjaga Kedekatan dengan Al-Qur’an Setiap Sabtu
Setiap Sabtu pagi, para guru dan pegawai berkumpul dalam halaqah HBG untuk belajar membaca Al-Qur’an bersama mudarris dan mudarrisah. Melalui pembelajaran mustawa 1, mereka mempelajari makhraj dan sifat huruf sebagai bagian dari upaya memperbaiki bacaan Al-Qur’an.
Kesibukan di dunia pendidikan tidak hanya menuntut guru untuk terus belajar tentang cara mengajar. Ada pula kebutuhan untuk senantiasa memperbaiki diri, termasuk dalam membaca Al-Qur’an. Sebab, sebelum membimbing peserta didik, seorang guru juga memiliki kesempatan untuk terus bertumbuh dalam ilmu dan amal.
Semangat inilah yang tercermin dalam kegiatan HBG (Hari Belajar Guru), sebuah program yang menjadi ruang belajar bersama bagi guru dan pegawai. Setiap Sabtu pagi, pukul 10.30 hingga 12.00, mereka berkumpul dalam halaqah untuk mempelajari Al-Qur’an bersama mudarris dan mudarrisah masing-masing.
Belajar Al-Qur’an di Tengah Kesibukan Mendidik
Menjadi guru berarti menjalani proses belajar yang tidak pernah benar-benar selesai. Setiap hari, ada ilmu yang perlu diperbarui, keterampilan yang perlu diasah, dan amanah yang perlu ditunaikan. Di tengah tanggung jawab tersebut, HBG menyediakan waktu khusus agar guru dan pegawai tetap memiliki kesempatan untuk belajar membaca Al-Qur’an dengan lebih baik.
Dalam kegiatan ini, peserta tidak sekadar berkumpul. Mereka mengikuti halaqah bersama pembimbing masing-masing. Suasana belajar seperti ini memberi ruang bagi proses pembelajaran yang lebih terarah, dengan mudarris dan mudarrisah mendampingi peserta sesuai kelompoknya.
Waktu yang disediakan secara rutin juga menjadi pengingat bahwa memperbaiki bacaan Al-Qur’an tidak harus menunggu sampai kesibukan berkurang. Justru, di tengah berbagai amanah, waktu belajar perlu dijaga agar tetap menjadi bagian dari keseharian.
Memulai dari Dasar, Memperbaiki Kualitas Bacaan
Pembelajaran HBG saat ini mencakup mustawa 1, dengan materi utama makhraj huruf dan sifat-sifat huruf. Keduanya merupakan bagian penting dalam mempelajari cara membaca huruf-huruf Al-Qur’an secara tepat.
Makhraj berkaitan dengan tempat keluarnya huruf, sedangkan sifat huruf membahas karakteristik yang menyertai pengucapannya. Memahami keduanya membantu pembelajar mengenali perbedaan bunyi huruf yang terkadang terdengar mirip, tetapi memiliki cara pengucapan yang berbeda.
Materi dasar ini penting dipelajari secara bertahap. Membaca Al-Qur’an bukan hanya tentang melafalkan rangkaian huruf, melainkan juga berusaha menjaga ketepatan pengucapannya. Karena itu, proses belajar membutuhkan kesungguhan, latihan berulang, dan bimbingan yang terarah.
Bagi guru dan pegawai, pembelajaran ini menjadi kesempatan untuk terus memperbaiki kemampuan diri. Semangat belajar tidak berhenti karena seseorang telah memiliki pengalaman atau tanggung jawab mengajar. Setiap orang tetap memiliki ruang untuk memperdalam ilmu dan meningkatkan kualitas amalnya.
Program yang Dapat Menjadi Inspirasi
HBG menghadirkan gagasan sederhana yang dapat dipertimbangkan oleh lembaga pendidikan lainnya: menyediakan waktu belajar Al-Qur’an secara rutin bagi guru dan pegawai, membagi peserta ke dalam halaqah, serta menghadirkan pembimbing yang mendampingi proses pembelajaran.
Pelaksanaannya tentu dapat disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan setiap lembaga. Hal yang penting ialah adanya komitmen untuk menjaga waktu belajar, materi yang terarah, dan pendampingan yang berkelanjutan.
Program seperti ini juga mengingatkan bahwa pengembangan kualitas pendidik tidak hanya berkaitan dengan kemampuan profesional di ruang kelas. Pembelajaran Al-Qur’an dapat menjadi bagian dari ikhtiar membangun lingkungan pendidikan yang memberi perhatian pada ilmu, ibadah, dan perbaikan diri.
Terus Bertumbuh Bersama Al-Qur’an
Setiap Sabtu pagi, HBG menjadi kesempatan untuk kembali meluangkan waktu bagi Al-Qur’an. Dari pembelajaran makhraj hingga sifat-sifat huruf, proses ini dijalani secara bertahap melalui halaqah bersama mudarris dan mudarrisah.
Perjalanan memperbaiki bacaan membutuhkan kesabaran dan konsistensi. Tidak semua kemampuan dapat dikuasai dalam satu pertemuan, tetapi kebiasaan belajar yang dijaga secara rutin memberi ruang bagi perbaikan dari waktu ke waktu.
HBG menunjukkan bahwa di balik kesibukan mendidik generasi, guru dan pegawai pun perlu terus belajar. Sebab, semangat menuntut ilmu tidak berhenti ketika seseorang berdiri di depan kelas. Ia tetap tumbuh melalui kesediaan untuk memperbaiki diri, termasuk dalam membaca Kalamullah.
Apresiasi karya
Jempol, love, atau tepuk tangan pada karya orang lain: 1 XP untuk anggota yang masuk. Masuk agar XP tercatat.
Komentar pembaca
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberi tanggapan baik.
Tulis komentar
Komentar yang lolos sensor kata langsung tampil. Anggota yang berkomentar pada karya orang lain mendapat 2 XP. Masuk agar XP tercatat.

Komentar saya